Pengabdian Itu Indah

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

“Jangan Kau Tanyakan Apa Yang Telah Negara Berikan padamu, Namun Tanyakan Apa Yang Telah Kau Berikan Pada Negaramu  (Bung Karno)”

Kata-kata yang diucapkan oleh Presiden pertama Republik Indonesia itu masih terngiang-ngiang di benak saya tatkala menulis essay ini. Pernyataan yang banyak mengandung arti ini membuat saya untuk berpikir berjuta kali melihat kondisi Bangsa Indonesia yang semakin tak menentu. Masih terlihat jelas tentang aksi yang dilakukan oleh para aktivis dari berbagai elemen terkait kenaikan harga BBM. Hal ini merupakan wujud kepedulian yang tinggi untuk memberikan solusi yang nyata untuk Bangsa yang Berbhineka Tunggal Ika ini. Mahasiswa sebagai leader of change memang membutuhkan kepedulian yang tinggi terhadap apa yang terjadi di Negeri Maritim ini. Pemikiran yang diberikan oleh mahasiswa yang katanya golongan intelek ini memang dibutuhkan oleh negeri. Tindakan yang konkrit yaitu dengan turun ke jalan merupakan bentuk kepedulian terhadap apa yang terjadi di negeri ini. Selain itu, diskusi dan birokrasi juga harus dilakukan. Kenaikan BBM memang menjadi topik hangat yang saat ini diperbincangkan, namun dalam tulisan essay saya kali ini bukanlah untuk membahas terkait BBM tetapi saya ingin menulis terkait Pengabdian.

Mengapa Pengabdian?

Bukan hanya kepedulian tinggi yang harus dimiliki oleh mahasiswa, namun juga pengabdian terhadap masyarakat. Jika dengan melakukan aksi merupakan wujud untuk mengaspirasikan suara rakyat ke Pemerintahan, namun di sisi lain mahasiswa harus turun ke dalam masyarakat dalam artian mengaplikasikan ilmu yang didapat. Seperti prolog yang disampaikan oleh Bung Karno adalah kita harus menanyakan seberapa besar pengorbanan kita terhadap Bangsa ini. Pengabdian adalah salah satu bentuk kontribusi yang nyata untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat. Pengabdian ini biasanya adalah bentuk pengabdian kepada masyarakat.

Sesuai dengan tri dharma Perguruan Tinggi yaitu ada tiga Penelitian, Pengabdian Masyarakat, dan….Kurikulum yang berlaku saat ini pun juga menjadwalkan mahasiswa untuk melakukan KKN BBM (Kuliah Kerja Nyata Belajar Bareng Masyarakat). Kegiatan ini biasanya dilakukan selama satu bulan dan mahasiswa ditempatkan di suatu daerah yang bisa dikatakan masih minim akses teknologi. Jika biasanya mahasiswa terkesan hidup enak di kota besar, maka saat melakukan kegiatan ini mereka dituntut untuk mengaplikasikan ilmu dalam bentuk pengabdian masyarakat di tengah keterbatasan.

Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai pulau dan di dalamnya banyak terdapat berbagai suku dengan adat yang berbeda. Seperti di pedalaman Kalimantan yang terkenal dengan suku Dayak. Masing-masing daerah ini belum memiliki akses terhadap dunia luar. Sehingga, daerah pedalaman yang ada di Indonesia membutuhkan tangan-tangan yang dapat mengubah daerah terpencil itu. Di sinilah peran mahasiswa dipertanyakan. Pengabdian masyarakat dapat dilakukan dengan mengaplikasikan ilmunya ke masyarakat. Namun sayangnya mahasiswa masih ragu untuk terjun ke daerah yang terpencil. Alasan yang paling fundamnetal adalah jiwa pengabdian yang belum menjadi karakter pada mahasiswa saat ini.

Tetapi, tidak sedikit mahasiswa yang tergerak hatinya untuk mengabdikan diri sebagai Pengajar di daerah terpencil. Mereka mengabdikan diri sebagai Pengajar Muda dalam Gerakan Indonesia Mengajar yang digagas oleh Rektor Universitas Paramadina, Bapak  Anies Baswedan. Selama setahun para pengajar muda ini ditempatkan di daerah terpencil seperti Maluku, Aceh dan Halmahera Selatan untuk mengajar dan mengabdikan diri di daerah tersebut. Mereka adalah Lulusan dari Universitas yang terkenal, namun memiliki nilai tambah yaitu berani untuk berjuang bersama masyarakat untuk membuka cakrawala dunia. Banyak tantangan yang mereka hadapi namun dengan ini membentuk jiwa-jiwa pengabdian para generasi muda Indonesia.

Pengabdian  dimulai sejak dini

            Bentuk pengabdian bukan hanya kita harus berada di daerah terpencil, tetapi kita sebagai generasi muda dapat memulainya dari diri sendiri dan lingkungan. Banyak hal yang dapat dilakukan terkait pengabdian, salah satu sifat yang harus dimiliki adalah kita peka dengan hal-hal kecil di sekililing kita. Misalnya kita sebagai mahasiswa yang kuliah di Kota Metropolitan banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mengabdi. Seperti memberikan wawasan terhadap anak-anak jalanan di sekililing kampus. Dengan seperti ini pengabdian dapat dimulai sejak dini dan yang terpenting adalah berasal dari diri sendiri. Karakter mahasiswa sebagai salah satu pemuda harapan Bangsa adalah harus memiliki jiwa yang kuat dalam melakukan pengabdian masyarakat. Dengan terbentuknya karakter pengabdian yang kuat maka Negara ini akan memiliki calon Pemimpin masa depan yang luar biasa.  Karena pada dasarnya Pengabdian itu Indah.

Once in my life, I was loved by you

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Mungkin cukup sulit bagaiamana membuatmu sedikit paham apa makna dari “kamu” untuk ku. Aku tahu kamu masih mencoba untuk membuatku mengerti dan paham bahwa usia kita terlalu jauh untuk membicarakan status yang bernama “cinta”.

Terlalu dini menjadikan aku dan kamu menjadi kita, itu mungkin yang sekarang ada dalam pikiranmu yang entah sampai kapan aku bisa cerna dan pahami. Tidak hanya butuh waktu namun juga butuh logika yang banyak agar bisa mengalahkan hati ini setiap kali aku harus mencerna semua kata-katamu yang entah ribuan kali kau ucapkan diawal kita bertemu sampai akhirnya aku tahu kau bukan untuk kita.  Iya,mungkin hati dan ragamu masih menjadi manusia nomaden, belum bisa untuk berhenti dalam satu tempat yang sama. Dan sekali lagi aku selalu merengek untuk mendapatkan sedikit ruang di hatimu agar cerita itu bisa bersambung lagi.

Dan kata-kata maaf mu juga sering aku kurang pahami. Entahlah Don’t have to say worry or something like that. I’ve been blessed, with one sentence you set us free. Well, dream that matter had come true. Once in my life, I was loved by you.

 

Mata Pelangi

Sebuah Nama Yang Abadi Gadis kecil itu duduk di teras rumah seorang diri. Tidak ada ayah ataupun nenek yang menemaninya kali ini. Hujan masih turun membasahi halaman rumah. Taman. Bunga. Pohon-pohon. Ayunan. Semua basah. Gadis kecil itu mengayunkan kaki mungilnya bermain air hujan. Sesekali ia tersenyum kecil merasakan dinginnya air hujan.
“Senja ayo masuk. Hujan.” Seorang ibu setengah baya keluar dari dalam rumah.
“Tapi, nek Senja pengen lihat pelangi.” Gadis kecil bernama Senja itu masih bermain air hujan, tak menghiraukan ajakkan neneknya.
“Lihat pelanginya di dalam saja ya.”
“Gak mau. Senja pengen lihat pelangi di sini.” Senja protes.
“Ya sudah. Tapi gak boleh hujan-hujan ya.” Neneknya mengalah. Meninggalkan Senja sendiri.

Hari mulai sore. Langit menyisakan titik-titik hujan. Matahari malu-malu mengintip dari balik awan. Sebuah mobil sedan memasuki garasi rumah. Seorang laki-laki muda keluar dari dalam mobil. Ia berlari menghindari hujan menuju teras rumah. Senja tersenyum riang melihat laki-laki muda itu.
“Ayah!” Senja berlari memeluk ayahnya yang basah kuyup.
Ayahnya membalas senyum putri kecilnya itu.
“Iya sayang. Kok anak ayah di luar. Kan lagi hujan. Nanti anak ayah masuk angin.” Ayahnya memeluk senja erat.
“Enggak ayah. Senja kan kuat. Senja lagi liat pelangi, tapi… pelanginya belum datang. Apa pelangi marah sama Senja yah?” Senja mengangkat kedua tangannya kemudian memandangi langit yang mulai berwarna biru cerah. Masih ada titik hujan di sana.
“Marah sama senja? Memangnya anak ayah nakal ya?”
“Tadi siang Senja mukul Rendi yah.” Senja tertunduk, takut ayahnya akan memarahi dirinya juga seperti Bu Sinta, gurunya di sekolah.
“Anak ayah kok gitu, kayak preman aja. Memangnya kenapa Senja mukul Rendi.”
“Habis Rendi jahat banget sama Rini, teman sebangku Senja. Masak bukunya Rini dibuang-buang yah. Senja kan gak suka. Makanya Senja pukul Rendi.” Senja mengepalkan tangan kanannya dan seperti seorang petinju ia memukul udara dengan tangan mungilnya itu.
“Senja sayang. Gak boleh gitu. Walaupun orang lain jahat sama kita, kita gak boleh membalasnya dengan kejahatan juga. Kita menganggap mereka itu jahat, tapi kita berbuat seperti mereka. Lalu, apa bedanya kita dengan mereka. Senja mengerti maksud ayah?” Ayah Senja menatap mata Senja. Bola mata berwarna coklat yang indah. Bibir mungil itu hanya manyun saja.
“Pokoknya ayah gak mau denger anak ayah berantem atau mukul orang. Anak ayah kan gadis kecil yang manis, pinter dan baik bukan preman. Mereka mungkin memang salah karena menyakiti kita tapi bukan menjadi hak kita untuk membalasnya, sayang.” Ayah senja melanjutkan.
“Tapi yah… aku kan cuma mau belain Rini aja yah. Memang salah ya?” Senja protes.
Ayah senja memandangi putri kecilnya itu. Waktu begitu cepat berlalu hingga tidak terasa sekarang Senja sudah besar. Usianya memang baru menginjak lima tahun tapi cara berfikirnya terkadang seperti orang dewasa. Kepergian ibu Senja empat tahun silam mungkin akan menjadi luka terdalam bagi Ayah Senja namun ia harus tetap kuat demi Senja, buah hatinya.
“Gak salah kalau Senja mau membela Rini tapi bukan dengan cara memukul Rendi. Kan Senja bisa bilang ke bu guru.”
Senja tertunduk merasa bersalah. “Lalu Senja harus bagaimana yah?”
“Besok Senja harus minta maaf sama Rendi. OK?”
“OK deh. Maafin Senja ya yah soalnya Senja udah bikin ayah marah.”
“Iya sayang. Tapi jangan diulangi lagi ya.” Ayah senja mengelus pipi Senja dengan lembut. Senja mengangguk pasti.
Sebuah pelangi terlukis indah di langit senja. Lengkungnya jatuh di atas pepohonan yang basah. Tetesan hujan di ujung dedaunan nampak seperti kristal-kristal yang bersinar diterpa cahaya matahari.
Senja menarik lengan baju ayahnya, “Ayah lihat itu. Pelangi. Indah ya yah.” Pekik Senja. Ayah Senja hanya mengangguk setuju.
“Emmm, ayah. Apa Ibu juga ada di sana?” Senja menunjuk pelangi di atas sana. Seolah berharap ibunya juga melihatnya disini.
“Iya, sayang.” Ayah Senja menjawab datar.
“Apakah ibu juga melihat Senja?”
“Ibu melihat Senja dari balik pelangi itu. Mata pelangi.” Ayah Senja menunjuk pada pelangi yang tersenyum hangat ke arah mereka.
“Mata Pelangi? Apa itu yah?” Senja penasaran.
“Mata Ibumu seperti pelangi. Indah sekali.”
“Benarkah yah?”
Ayah Senja tersenyum, “Iya sayang. Mata pelangi ibumu ada di matamu juga Senja.” Ayah Senja membelai lembut pipi mungil Senja.
“Mata pelangi? Berarti ibu ada di balik pelangi itu ya yah?” Senja menunjuk pelangi yang melengkung indah di atas pepohonan hijau.
Ayah Senja mengangguk untuk yang kesekian kalinya.
Ayah dan anak itu terus memandangi pelangi di atas sana dan berharap orang yang mereka sayang pun melihat mereka. Merasakan juga rasa rindu yang membuncah di dalam hati mereka. Sang pelangi membalas dengan warna tubuhnya yang bersinar terang di angkasa.

Langit malam semakin gelap. Dingin menyeruak masuk ke dalam tiap sudut rumah. Senja tertidur pulas di samping neneknya. Mata mungilnya tertutup rapat dan kedua tangannya erat memeluk boneka kelinci kesayangannya. Jam di dinding kamar menunjuk pada angka sembilan. Rio, ayah senja masih terjaga di ruang kerjanya. Matanya fokus memandangi layar komputer. Jemarinya dengan lincah mengetik. Sesekali Rio menguap karena mengantuk. Jemarinya menggerakkan mouse mengklik folder bertuliskan “Cinta”. Foto-foto perempuan berjilbab muncul di layar komputer. Senyumnya merekah. Sesosok bayi mungil tertidur pulas dalam pangkuannya. Dia Febri, ibu Senja. Air bening membuyarkan pandangan Rio. Memaksa untuk tumpah. Rio menghapus air bening itu dengan punggung tanggannya.
“Waktu begitu cepat berlalu sayang hingga tanpa ku sadari, Senja, buah hati kita menjadi perempuan kecil yang cantik seperti dirimu, sayang. Aku merindukanmu. Juga Senja. Apa Kau merindukan kami? Bahagiakah kau di sana? Kami memiliki kebiasan baru, sayang. Saat rindu menyergap hati, kami memandangi pelangi di balik rintik hujan. Senja yang mengusulkan itu. Aku setuju saja. Anak itu semakin hari semakin mirip denganmu, sayang. Manjanya, senyumnya, marahnya dan matanya. Mata pelangi milikmu ada padanya. Tiap kali aku menatapnya, aku merasa kau ada di sana. kau memang akan tetap selalu ada dan hidup, di hati kami.”

“Rio, bangun Rio. Rio.” Seseorang mengetuk pintu kamar. Rio terjerembab kaget. Dengan gontai ia membuka pintu. Ibu Rio berdiri dengan gusar di depan pintu kamar.
“Rio, Senja.” Ibu paruh baya itu menunjuk-nunjuk kamar Senja.
“Senja kenapa bu?” Rio panik tapi ia berusaha tetap tenang.
“Nafasnya… sesak.” Ibu Rio terbata. Rio berlari menuju kamar Senja. Pintu kamar terbuka. Bik Sumi duduk di samping Senja. Wajahnya panik.
“Tuan, non Senja tuan.” Rio melemparkan pandang. Dilihatnya Senja mengejang. Nafasnya naik-turun. Rio mendekat. Tubuh Senja juga panas. Rio meraih handphone yang tersimpan di saku celananya. Dengan gesit ia memencet nomor, menghubungi seseorang. Beberapa detik kemudian terdengar suara laki-laki dari seberang.
“Hallo, Dok. Maaf mengganggu waktu istirahat dokter. Senja badannya panas. Nafasnya juga sesak. Apa dokter bisa datang ke rumah?”
Diam sejenak di seberang.
“Iya dok. Saya tunggu. Terima kasih.” Terputus.

Lima belas menit kemudian terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Rio meminta bik Sumi membuka pintu. Dokter Andi masuk ke kamar Senja kemudian. Di tangannya sebuah tas hitam mengkilat berisi berbagai peralatan kedokteran. Dengan cekatan Dokter Andi memeriksa Senja. Rio memandang bergantian, Dokter Andi dan Senja. Kegelisahan menyusup ke dalam hatinya.
Jangan kau ambil Senja Tuhan. Aku mohon. Rio berdialog pada Sang Pencipta. Memohon agar Ia mengizinkan Senja tetap bersamanya, menemani hari-harinya.
Dokter Andi mengajak Rio keluar kamar.
“Maaf pak. Kondisi Senja sangat kritis. Suhu badannya tinggi. Harus segera dibawa ke rumah sakit. Lebih cepat lebih baik.” Dokter Andi menepuk pundak Rio kemudian berpamitan pulang.

Hari ke tujuh. Rumah Sakit Kasih Ibu ruang melati. Senja masih belum sadar sejak tujuh hari yang lalu. Sejak Dokter Andi menyarankan pada Rio, Senja segera dibawa ke Rumah Sakit. Raut muka yang pucat itu menyunggingkan sedikit senyum. Hanya sedikit. Bik Sumi duduk di sebelah Senja dengan tangan menyangga kepala yang terasa berat. Letih yang sangat, mengendap di tubuhnya yang mulai menua. Langit terlihat muram. Angin dingin membawa dedaunan kering terbang tanpa arah. Meski mendung, belum ada tanda hujan akan segera turun. Rio memasuki ruangan. Bik Sumi akhirnya tertidur di samping Senja. Rio membangunkan bik Sumi.
“Bik Sum, malam ini biar saya saja yang menjaga Senja. Bik Sumi bisa istirahat di rumah.” Rio tersenyum meski sedikit dipaksakan. Bik Sumi mengangguk dan berpamitan pulang. Rio memandangi Senja yang masih terlelap dalam tidur panjangnya. Tangannya lembut mengelus rambut Senja. Setitik air meleleh di pipi Rio. Rio membiarkannya tidak berusaha menghapus airmata yang sudah membasahi kedua matanya. Mendung di luar semakin pekat. Titik-titik hujan berbarengan turun membasahi tanah, pepohonan, parkiran, tenda para pedagang kaki lima dan yang lainnya. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh melindungi diri dari hujan. Rio memejamkan mata. Mendengarkan nyanyian hujan yang semakin deras. Punggungnya bersandar pada kursi. Hati dan pikirannya mengembara.

Waktu melaju begitu cepat. Langit semakin gelap namun hujan belum ingin beranjak pergi. Membawa tiap jiwa tenggelam dalam mimpi. Terlihat cahaya yang sangat terang. Rio melangkahkan kaki menyusuri padang ilalang. Menoleh ke kanan ke kiri. Tak ada seorang pun. Rio tetap terus melangkah. Terdengar suara orang di bawah pohon besar yang berada tak jauh dari tempat Rio berdiri. Rio mendekat. Seorang perempuan muda sedang bermain dengan seorang gadis kecil. Mereka tampak bahagia, senyum mereka merekah. Gadis kecil itu menoleh ke arah Rio.
“Ayah.” Panggil gadis itu.
Rio mencoba mengenali wajah dan suara itu.
“Senja.” Rio berkata pelan. Gadis kecil itu sudah berdiri di depan Rio.
“Itu ibu yah.” Senja menunjuk perempuan yang tadi berdiri di bawah pohon dan sekarang berjalan mendekati mereka.
“Febri.” Rio tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Orang yang selalu ia rindukan, sekarang berdiri dengan senyum indah merekah. Mata pelangi itu masih tetap sama.
“Senja, kita harus pergi sekarang.” Febri meraih tangan mungil Senja. Senja menganguk, menurut.
“Daa ayah.” Senja melambaikan tangan pada ayahnya.
“Tunggu. Kalian mau kemana? Senja di sini saja. Sama Ayah. Kemari sayang.” Rio mencegah.
“Tidak Rio. Senja ikut bersamaku. Jaga dirimu baik-baik. Selamat tinggal.” Febri tersenyum.
“Ayah jangan sedih. Senja sama ibu gak kemana-mana kok. Ayah bisa lihat senja juga ibu di balik pelangi indah itu. Daaa ayah.” Senja menunjuk pelangi yang melengkung indah di atas langit biru yang cerah. Rio terus memanggil Senja memintanya tinggal bersamanya namun mereka telah hilang bersama pudarnya cahaya indah pelangi. Rio tersadar. Keringat dingin memenuhi seluruh tubuhnya. Pukul dua dini hari.
“Ayah, dingin ayah. Dingin. Dingin. Dingin yah.” Wajah Senja pucat pasi. Rio dengan sigap menyelimuti tubuh Senja.
“Masih dingin sayang?” Rio mulai cemas. Senja mengangguk pelan. Rio mengeluarkan selimut yang tadi sempat dia ambil dari rumah. Senja masih menggigil. Tubuhnya panas tinggi. Rio memanggil dokter Andi.
“Tolong dok. Selamatkan putri saya dok.”
“Bapak tenang dulu. Lebih baik bapak menunggu di luar. Biar saya periksa Senja dulu.”

Satu jam yang sangat mencekik. Rio mondar-mandir di ruang tunggu rumah sakit. Berkali-kali kepalanya menengok ke dalam. Dokter Andi masih sibuk memeriksa. Udara menjadi sangat dingin. Seakan menyergap semua harapan dan kebahagiaan. Dokter Andi keluar dan menutup pintu pelan.
“Bagaimana dok?” Rio semakin cemas melihat ekspresi wajah dokter Andi saat keluar dari ruangan.
“Mohon maaf pak. Senja tidak tertolong. Saya minta maaf. Saya sudah berusaha semampu saya. Semoga bapak bisa tabah menghadapi kenyataan ini.” Dokter Andi menepuk pundak Rio dan berlalu pergi. Kaki Rio tiba-tiba saja terasa hilang. Tubuhnya tumbang terjatuh ke lantai. Tangisnya pecah. Hatinya menolak kenyataan bahwa Senja telah pergi. Tertatih Rio berusaha bangkit. Matanya nanar memandang Senja yang terbujur kaku di atas ranjang. Kedua mata itu tertutup rapat. Rio memanggil Senja berharap Senja akan menjawab dan memanggil namanya. Namun Senja tetap diam tak bergerak.

Hujan baru saja berhenti. Menyisakan titik hujan di ujung dedaunan. Langit berubah biru cerah. Pemakaman masih ramai pelayat. Nenek Senja masih menangis saat seorang tetangga menyalami. Rio jongkok terdiam di samping pusara Senja. Tak dihiraukan para tetangga yang ingin mengajaknya bersalaman. Rio masih bertahan saat kerumunan para pelayat sudah pulang. Kenangan bersama Senja datang tiba-tiba seperti video yang sedang diputar. Terkadang Rio tertawa kecil, terkadang ia menangis. Rio mengangkat kepala. Menghapus sisa airmatanya. Di ujung sana, sebuah pelangi muncul. warna merah, kuning, hijau terlihat sangat indah di langit yang berwarna biru cerah. Rio teringat kalimat Senja semalam, Ayah bisa lihat senja juga ibu di balik pelangi indah itu. Kalimat terakhir Senja yang akan selalu Rio ingat.

Hidup harus terus berlanjut, seberapa menyakitkan aku kehilangan Febri dan Senja. Biarkan waktu yang menjadi obat atas semua luka dan pedih ini, Mereka akan selalu hidup di dalam hatiku, Rio berucap mantap, menguatkan diri. Pelangi di atas sana masih tercipta sempurna saat Rio melangkah meninggalkan pemakaman. Tetesan hujan yang diam di atas dedaunan tampak berkilauan ditimpa cahaya matahari.

Cerpen Karangan: Nuril Islam

URBAND LEGEND : CARA BERMAIN PETAK UMPET DENGAN HANTU (JANGAN DI COBA!)

tumblr_mhvtggrduj1rs4kcvo1_500_thumb

Permainan ini sangatlah terkenal di Jepang dan Korea. Terjemahan dari nama permainan ini versi Jepang adalah “Temukan aku dan kau bisa berbuat apapun terhadapku.” Permainan ini hanya bisa dimainkan SATU ORANG dan kamu membutuhkan sebuah boneka untuk melakukannya.

Ingat, ikuti semua peraturan, termasuk yang harus kamu lakukan atau tidak boleh kamu lakukan, jika tidak ….

Pertama, kamu akan membutuhkan:

1. Sebuah boneka yang memiliki. Sebaiknya jangan boneka manusia, sebab ada kemungkinan besar arwah yang masuk ke boneka itu takkan mau meninggalkannya. Jangan pakai juga boneka yang kamu sukai, karena ikatan yang kamu miliki dengan boneka itu juga akan membuatnya arwah yang masuk tak mau pergi.

2. Beras. Tujuannya sebagai sesajen bagi arwah itu untuk membuatnya makin kuat.

3. Benang merah. Menyimbolkan darah dan digunakan sebagai pengikat.

4. Sesuatu yang berasal dari tubuhmu. Bisa potongan kuku, rambut, atau bahkan darahmu.

5. Senjata. Yaitu sesuatu yang bisa kamu gunakan untuk menusuk bonekamu. Tidak harus menggunakan pisau atau gunting, kamu bisa menggunakan pensil yang tajam atau jarum.

6. Garam/air garam/alkohol. Tanpa benda2 ini, kamu tidak akan bisa mengakhiri permainan. Kamu akan menggunakannya untuk mengusir arwah keluar dari bonekamu.

7. Tempat yang aman. Kamu membutuhkannya untuk bersembunyi. Penuhi tempat itu dengan benda2 yang kamu anggap suci menurut agamamu masing2.

8. Nama. Memberi nama adalah hal terkuat yang bisa diberikan manusia kepada hantu. Memberinya nama akan memberikannya kekuatan.

Cara memulai permainan ini:

1. Potong boneka itu dan ganti isinya dengan beras.

2. Masukkan sesuatu yang berasal dari tubuhmu ke dalam boneka itu.

3. Ikat boneka itu dengan benang merah.

4. Di dalam kamar mandi, tuangkan air ke dalam bak atau wastafel yang dan temukan tempat untuk bersembunyi.

5. Tempatkan segelas air garam sebelum memulai permainan.

Cara melakukan permainan:

1. Mulailah pada jam 3 pagi, karena waktu ini (menurut kepercayaan Jepang) merupakan waktu dimana hantu2 bergerak paling aktif.

2. Berikan boneka itu sebuah nama, semisal “Ted”.

3. Tepat pada jam 3 pagi, tutup namanya dan katakan, “Aku akan mencari (nama boneka), ulangi tiga kali seakan2 kamu berbicara pada boneka itu dengan nada yang tegas.

4. Pergilah ke kamar mandi dan letakkan boneka di dalam bak mandi/wastafel berisi air.

5. Matikan lampu.

6. Keluar dari kamar mandi. Tutup matamu dan hitung sampai 10. Siapkan senjatamu dan masuklah ke dalam kamar mandi.

7. Temukan boneka itu di dalam bak mandi dan katakan, “Aku menemukanmu, (nama boneka). Kemudian tusuk boneka itu.

8. Tutup matamu kembali dan katakan, “Sekarang giliran (nama boneka) untuk mencariku!” tiga kali.

9. Taruh senjatamu di samping si boneka dan pergi ke tempat persembunyianmu. Kamu HARUS mengunci semua pintu dan jendela yang mengarah ke tempat persembunyianmu. Siapkan segelas air garam di dekatmu. Air garam itu akan melindungimu dari roh jahat.

Untuk Mengakhiri Permainan

Minum segelas air garam, namun jangan ditelan dan jangan dimuntahkan! Keluarlah dari tempat persembunyianmu, temukan bonekamu (mungkin bonekamu takkan kamu temukan di kamar mandi, carilah hingga ketemu). Kemudian semprotkan air garam dalam mulutmu ke arah boneka itu. Pejamkan mata dan berteriaklah, “Aku menang! Aku menang! Aku menang!”

Boneka itu akan menyerah.

Sangat disarankan untuk membakar boneka itu setelah permainan selesai, hanya untuk jaga2.

PERINGATAN PENTING:

1. Kamu harus memainkannya sendirian! Jika kamu memainkannya berdua, ada kemungkinan justru salah satu dari kalian yang akan dirasuki.

2. Jangan pernah keluar dari rumah saat permainan berlangsung.

3. Jangan sampai permainan berlangsung lebih dari dua jam. Arwah akan sulit diusir sebab akan bertambah kuat.

4. Matikan semua alat elektronik saat bermain.

5. Ingat, jangan pernah sekalipun keluar dari tempat persembunyianmu. Hiraukan semua suara yang akan kamu dengar selama permainan di luar tempat persembunyianmu, seperti suara langkah, pisau diseret, ataupun suara terkekeh.

6. Peraturan paling penting dari permainan ini, “JANGAN PERNAH BIARKAN DIA MENEMUKANMU!”

Menulis Untuk Keabadian

Jalan..

jalan-bercabang

Sebelum semuanya pergi pada suatu pagi..
Segala keputusan yang telah diambil mungkin telah membawaku pada suatu jalan di masa depan. Pada suatu jalan yang tak kita ketahui ujungnya, yang tak diketahui pula seberapa menyenangkannya jalan di sebelahnya. Pada suatu masa waktu kedepannya, semua akan tergambar lebih jelas dan lebih jelas lagi. Tapi ketika kita mendapatkan kejelasan pada suatu tujuan yang telah kita ambil. Sayangnya, kita tak pernah bisa berhenti, beristirahat untuk menikmati. Karena bukan perkara tubuh yang tak mampu berhenti melainkan waktu. Waktu telah menjadi roda yang menggerakkan diri ini dan diri ini tak memiliki kuasa apa-apa untuk berhenti.

Di sepanjang hari, kita akan menempuh pada jalan-jalan yang baru. Bedanya, semakin jauh berjalan kita akan semakin jelas melihat. Mau menuju tempat apa sesungguhnya kita. Mungkin saja, di suatu hari kita akan menyesali hari-hari yang telah lalu dan selalu ada rasa ingin kembali di masa itu, untuk memperbaiki kesalahan. Tapi sayangnya, telah manjadi hukum waktu untuk tidak bisa kembali, berhenti atau menjadi beku. Dan selalu ada penyesalan-penyesalan yang mengikuti jalan kita ke depan.

Manusia akan selalu melakukan salah dan tak ada yang mampu untuk memperbaiki kesalahan di masa lampau. Yang mampu dilakukan hanylah untuk menghindari kesalahan agar tak terulang. Tak ada yang mau tentunya, jatuh di lubang ketika pertanda jalan rusak telah kita ketahui sebelumnya. Mungkin itu hakikatnya kita terus berjalan, karena kita akan selalu belajar untuk mengetahui bagaimana cara berjalan yang baik. Seperti seorang supir yang handal, sayangnya kita tak mengetahui medan, tak mengetahui kondisi jalan. Yang dimiliki hanyalah ketahanan fisik dan pengalaman bertahun-bertahun.

Nelayan Yang Puas

nelayan-yang-puas

Usahawan kaya dari kota terkejut menjumpai nelayan di pantai sedang berbaring bermalas-malasan di samping perahunya, sambil mengisap rokok.

‘Mengapa engkau tidak pergi menangkap ikan?’ tanya usahawan itu.

‘Karena ikan yang kutangkap telah menghasilkan cukup uang untuk makan hari ini,’ jawab nelayan.

‘Mengapa tidak kau tangkap lebih banyak lagi daripada yang kau perlukan?’ tanya usahawan.

‘Untuk apa?’ nelayan balas bertanya.

‘Engkau dapat mengumpulkan uang lebih banyak,’ jawabnya. ‘Dengan uang itu engkau dapat membeli motor tempel, sehingga engkau dapat melaut lebih jauh dan menangkap ikan lebih banyak. Kemudian engkau mempunyai cukup banyak uang untuk membeli pukat nilon. Itu akan menghasilkan ikan lebih banyak lagi, jadi juga uang lebih banyak lagi. Nah, segera uangmu cukup untuk membeli dua kapal … bahkan mungkin sejumlah kapal. Lalu kau pun akan menjadi kaya seperti aku.’

‘Selanjutnya aku mesti berbuat apa?’ tanya si nelayan.

‘Selanjutnya kau bisa beristirahat dan menikmati hidup,’ kata si usahawan.

‘Menurut pendapatmu, sekarang Ini aku sedang berbuat apa?’ kata si nelayan puas.

Marak Senja

Marak Senja

Mentari senja terapit nyiur Mentari senja terapit nyiur/google.com

Jika boleh memilih waktu, maka senjalah yang bakal kupilih. Mudah saja, bagiku senja itu indah. Senja selalu menuturkan banyak kisah sebelum hari berubah menjadi gelap, setidaknya kepadaku. Lewat pesonanya, meski ia hanya diam, kisah demi kisah tak pernah lupa ia bagikan, setidaknya kepadaku.

Aku suka menatap senja. Apalagi dari tepi pantai ketika matahari mulai membenamkan keangkuhannya setelah seharian menghibur bumi lewat teriknya. Atau dari balik bebukitan, atau juga dari persawahan yang membentang luas seolah tannpa batas.

Lihat pos aslinya 109 kata lagi